Recent post
Archive for Februari 2021
Chapter 8 Subnetting IP Networks
8.1. Reasons for Subnetting
Dengan subnetting, sebuah perusahaan dapat mengurangi lalu
lintas jaringan secara keseluruhan dan meningkatkan kinerja jaringan. Selain
itu, administrator juga dapat menerapkan kebijakan keamanan seperti subnet mana
yang diizinkan atau tidak diizinkan untuk berkomunikasi bersama.
8.2. Classless Subnetting
Contoh-contoh yang terlihat sejauh ini meminjam bit host
dari prefix length umum yaitu /8, /16 dan /24. Namun, subnet dapat meminjam bit
dari posisi bit host mana pun untuk membuat subnet mask lain. Sebagai contoh,
alamat jaringan /24 umumnya disubkripsikan menggunakan prefix yang lebih
panjang dengan meminjam bit dari oktet keempat. Ini memberikan administrator
fleksibilitas tambahan ketika menetapkan alamat jaringan ke sejumlah perangkat
akhir yang lebih kecil seperti :
- ·
/25 - Meminjam 1 bit dari oktet keempat menghasilkan 2 subnet yang
masing-masing mendukung 126 host.
- · /26
- Meminjam 2 bit menghasilkan 4 subnet yang masing-masing mendukung 62
host.
- · /27
- Meminjam 3 bit menghasilkan 8 subnet yang masing-masing mendukung 30
host.
- · /28
- Meminjam 4 bit menghasilkan 16 subnet yang masing-masing mendukung 14
host.
- · /29
- Meminjam 5 bit menghasilkan 32 subnet yang masing-masing mendukung 6
host.
-
/30 - Meminjam 6 bit menghasilkan 64 subnet yang
masing-masing mendukung 2 host.
8.3. Subnetting Formulas
Untuk menghitung jumlah subnet yang dapat dibuat dari bit
yang dipinjam, gunakan rumus “ 2 ^ n “ dimana n adalah bit yang dipinjam. Bisa
dilihat implementasinya pada gambar di bawah ini.
Catatan : Dua bit terakhir tidak dapat dipinjam dari oktet
terakhir karena tidak akan ada alamat host yang tersedia. Oleh karena itu,
prefix length terpanjang yang mungkin bisa di subnetting adalah /30 atau
255.255.255.252.
Untuk menghitung jumlah host yang dapat digunakan, gunakan rumus “ 2 ^ n - 2 “, dimana n adalah jumlah bit host. Ada dua alamat subnet yang tidak dapat ditetapkan ke host yaitu network address dan broadcast address, jadi harus menguranginya 2. Berikut implementasi untuk menghitung jumlah host, seperti yang ditunjukkan pada gambar di bawah ini :
8.4. Variabel Length Subnet Mask (VLSM)
Dalam semua contoh subnetting sebelumnya, subnet mask yang
sama diterapkan untuk semua subnet. Ini berarti bahwa setiap subnet memiliki
jumlah alamat host yang sama.
Subnetting VLSM mirip dengan subnetting tradisional dalam
bit yang dipinjam untuk membuat subnet. Perbedaannya adalah subnetting bukan
merupakan aktivitas single pass. Dengan VLSM, jaringan pertama-tama di-subnet,
dan kemudian subnet-subnet kembali di-subnet. Proses ini dapat diulang beberapa
kali untuk membuat subnet dari berbagai ukuran.
Untuk lebih memahami proses VLSM. Sebagai contoh, jaringan
192.168.20.0/24 di subnet menjadi delapan subnet berukuran sama. Tujuh dari
delapan subnet dialokasikan. Empat subnet digunakan untuk LAN dan tiga subnet
untuk koneksi WAN antar router. Ingat bahwa ruang alamat yang terbuang
digunakan untuk koneksi WAN. Untuk membuat subnet yang lebih kecil untuk link WAN,
salah satu subnet akan dibagi. Dalam contoh ini, subnet terakhir,
192.168.20.224/27, akan di-subnetkan lebih lanjut. Bisa dilihat seperti pada
gambar di bawah ini.
Sebelum koneksi WAN di Subnet VLSM
Setelah koneksi WAN di Subnet dengan VLSM
Skema subnetting VLSM ini dapat mengurangi jumlah alamat per
subnet ke ukuran yang sesuai untuk WAN. Subnetting subnet 7 untuk WAN,
memungkinkan subnet 4, 5, dan 6 tersedia untuk jaringan masa depan, serta 5
subnet tambahan yang tersedia untuk WAN.
8.5. Planning to Address the Network
Tiga pertimbangan utama untuk merencanakan alokasi
alamat yaitu :
1) Mencegah duplikasi alamat, mengacu pada fakta bahwa
setiap host dalam suatu internetwork harus memiliki alamat yang unik.
2) Menyediakan dan mengendalikan akses, mengacu
pada fakta beberapa host, seperti server yang menyediakan sumber daya untuk
host internal maupun eksternal. Alamat layer 3 server dapat digunakan untuk
mengontrol akses ke server itu. Namun, jika alamat tersebut secara acak
ditetapkan dan tidak didokumentasikan dengan baik, mengontrol akses akan lebih
sulit dilakukan.
3) Pemantauan keamanan dan kinerja host,
berarti lalu lintas jaringan diperiksa untuk alamat IP sumber yang menghasilkan
atau menerima paket yang berlebihan. Jika ada perencanaan dan dokumentasi yang
tepat dari pengalamatan jaringan, perangkat jaringan bermasalah harus mudah
ditemukan.
8.6. The IPv6 Global Unicast Address
Subnet IPv6 memerlukan pendekatan yang berbeda dari subnet
IPv4. Namun, karena banyaknya alamat IPv6, tidak ada lagi kekhawatiran untuk
melestarikan alamat. Subnetting IPv6 tidak berkaitan dengan konservasi ruang
alamat. Subnet ID mencakup lebih dari subnet yang cukup. Subnetting IPv6 adalah
tentang membangun hierarki pengalamatan berdasarkan jumlah sub jaringan yang
diperlukan.
Ada dua jenis alamat IPv6 yang dapat ditetapkan. Alamat
link-local IPv6 yang tidak pernah bisa di subnet karena hanya ada pada link
local. Namun, alamat unicast global IPv6 dapat di subnet. Alamat global unicast
IPv6 biasanya terdiri dari prefix routing global /48, subnet ID 16 bit, dan
interface ID 64 bit.
8.7. Subnet Using the Subnet ID
Bagian subnet ID 16 bit dari alamat global unicast IPv6
dapat digunakan oleh organisasi untuk membuat subnet internal. Subnet ID
menyediakan subnet dan dukungan host yang lebih dari cukup yang dibutuhkan
dalam satu subnet yang bisa membuat hingga 65.536 /64 subnet tanpa meminjam bit
apapun dari interface ID atau bahkan mendukung hingga 18 juta alamat IPv6 host
per subnet.
Subnetting IPv6 juga lebih mudah diterapkan daripada IPv4,
karena tidak ada konversi ke biner yang diperlukan. Untuk menentukan subnet
yang tersedia berikutnya, cukup hitung dalam heksadesimal. Sebagai contoh,
asumsikan sebuah organisasi telah ditetapkan 2001: 0DB8:ACAD::/48 global prefix
routing dengan 16 bit sebagai subnet ID.
Chapter 7 IP Addressing
Bit dalam bagian jaringan dari alamat IP harus sama untuk semua perangkat yang berada dalam jaringan yang sama. Subnet mask atau awalan digunakan untuk menentukan bagian jaringan dari sebuah alamat IP. Alamat IP dapat diberikan secara statis atau dinamis. DHCP memungkinkan penugasan otomatis untuk menangani informasi seperti alamat IP, subnet mask, gateway default, dan informasi konfigurasi lainnya.
ICMP tersedia untuk IPv4 dan IPv6. ICMPv4 adalah protokol perpesanan untuk IPv4. ICMPv6 menyediakan layanan yang sama untuk IPv6 namun mencakup fungsionalitas tambahan.
BAB VI
Chapter 6 Network Layer
6.1. Network Layer
Network Layer menyediakan layanan untuk memungkinkan
perangkat akhir bertukar data di seluruh jaringan. Untuk mencapai transportasi
end-to-end ini, lapisan jaringan menggunakan empat proses dasar:
a. Addressing end device
Perangkat akhir harus dikonfigurasi dengan alamat IP unik
untuk mengidentifikasi perangkat tersebut di jaringan.
b. Encapsulation
Network layer mengenkapsulasi Protocol Data Unit (PDU) dari
transport layer ke dalam paket. Pada proses enkapsulasi akan dilakukan
penambahan informasi header IP, seperti IP address sumber (pengirim) dan host
tujuan (penerima).
c. Routing
Network layer menyediakan layanan untuk mengarahkan paket ke
host tujuan di jaringan lain. Untuk melakukan perjalanan ke jaringan lain,
paket harus diproses oleh router untuk memilih jalur terbaik dan paket akan
langsung ke host tujuan/routing.
d. De-encapsulation
Ketika paket tiba di network layer di host tujuan, host akan
memeriksa header IP dari paket. Jika alamat IP tujuan dalam header cocok dengan
alamat IP-nya sendiri, header IP dihapus dari paket. Setelah paket
di-enkapsulasi oleh network layer, Layer 4 PDU yang dihasilkan dilewatkan ke
layanan yang sesuai pada transport layer.
Ada beberapa protokol network layer yang ada. Namun, hanya
ada dua protokol lapisan jaringan yang umumnya diterapkan :
1) Internet Protocol
version 4 (IPv4)
2) Internet Protocol
version 6 (IPv6)
6.2. Characteristics of IP
Protokol IP tidak dirancang untuk melacak dan mengelola
aliran paket, untuk fungsi-fungsi tersebut dilakukan oleh protokol lain di
lapisan lain, terutama TCP pada layer 4. Ada beberapa karakteristik dari IP
yaitu :
1) IP – Connectionless
Artinya IP tidak memiliki koneksi end-to-end khusus yang
dibuat sebelum data dikirim. IP juga tidak memerlukan pertukaran informasi
kontrol awal untuk membuat koneksi end-to-end sebelum paket diteruskan. IP juga
tidak memerlukan kolom tambahan di header untuk mempertahankan koneksi yang
sudah ada.
2) IP – Best Effort Delivery
Dapat diartikan bahwa protokol IP tidak bisa menjamin semua
paket yang dikirimkan, pada kenyataannya diterima. Atau dalam hal tersebut, IP
tidak memiliki kemampuan untuk mengelola dan memulihkan sebuah paket yang tidak
terkirim atau rusak, karena ketika paket IP dikirim dengan informasi tentang
lokasi pengiriman, IP tidak mengandung informasi yang dapat diproses untuk
memberi tahu pengirim apakah pengiriman berhasil atau tidak.
3) IP – Media Independent
Artinya, bahwa IP ini beroperasi secara independen dari
media yang membawa data pada lapisan bawah hingga protocol stack. Hal tersebut,
adalah tanggung jawab lapisan data link untuk mengambil paket IP dan
menyiapkannya melakukan transmisi melalui media komunikasi.
6.3. IPv4 Header
Bidang signifikan dalam header IPv4 meliputi:
1) Versi - Berisi nilai biner 4-bit diatur ke
0100 yang mengidentifikasi ini sebagai paket versi 4 IP.
2) Differentiated Services atau DiffServ (DS) -
bidang DS adalah bidang 8-bit yang digunakan untuk menentukan prioritas setiap
paket. Enam bit paling signifikan dari bidang DiffServ adalah Differentiated
Services Code Point (DSCP) dan dua bit terakhir adalah bit Explicit Congestion
Notification (ECN).
3) Time-to-Live (TTL) - Berisi nilai biner 8-bit
yang digunakan untuk membatasi umur paket. Pengirim paket menetapkan nilai TTL
awal, dan itu berkurang satu setiap kali paket diproses oleh router.
4) Protokol - Bidang digunakan untuk
mengidentifikasi protokol tingkat berikutnya. Nilai biner 8-bit ini menunjukkan
tipe muatan data yang dibawa oleh paket, yang memungkinkan lapisan jaringan
untuk meneruskan data ke protokol lapisan atas yang sesuai. Nilai-nilai umum
termasuk ICMP (1), TCP (6), dan UDP (17).
5) Alamat IPv4 Sumber - Berisi nilai biner
32-bit yang mewakili alamat IPv4 sumber paket. Alamat IPv4 sumber selalu
merupakan alamat unicast.
6) Alamat IPv4 Tujuan - Berisi nilai
biner 32-bit yang mewakili alamat IPv4 tujuan paket. Alamat IPv4 tujuan adalah
alamat unicast, multicast, atau broadcast.
Dua bidang yang paling sering direferensikan adalah alamat
IP sumber dan tujuan.
6.4. Introduction IPv6
IPv6 adalah IP address sebagai pengganti IPv4 yang bisa
mengatasi keterbatasannya dengan melakukan peningkatan yang kuat terhadap fitur
yang lebih sesuai dengan tuntutan jaringan saat ini dan mendatang. Perbaikan
yang disediakan oleh IPv6 meliputi :
1) Peningkatan ruang alamat - Alamat IPv6
didasarkan pada pengalamatan hirarkis 128 bit dibandingkan dengan IPv4 dengan
32 bit.
2) Peningkatan penanganan paket - Header IPv6
telah disederhanakan dengan lebih sedikit field.
3) Menghilangkan kebutuhan NAT - Dengan begitu
banyak alamat IPv6 publik dan dapat menghindari beberapa masalah aplikasi yang
diinduksi NAT seperti tidak bisa melakukan konektivitas end to end.
4) Ruang alamat IPv4 32
bit menyediakan sekitar 4.294.967.296 alamat unik. Ruang alamat IPv6
menyediakan 340.282.366.920.938.463.463.374.607.431.768.211.456 atau 340
undecillion alamat, yang kira-kira setara dengan setiap butir pasir di Bumi.
6.5. Encapsuling IPv6 and IPv6 Packet Header
Field dalam header IPv6 meliputi :
1) Version - Berisi nilai biner 4 bit
yang diatur ke 0110 yang mengidentifikasi paket IPv6.
2) Traffic Class - Field yang berisi 8 bit dan
setara dengan field IPv4 Differentiated Services (DS).
3) Flow Label - Field yang berisi 20 bit yang
menunjukkan bahwa semua paket dengan label aliran yang sama menerima jenis
penanganan yang sama oleh router.
4) Payload Lenght - Field yang berisi 16
bit yang menunjukkan payload paket IPv6.
5) Next Header - Field yang berisi 8 bit dan
setara dengan field protocol IPv4. Dimana, field ini menunjukkan tipe muatan
data yang dibawa oleh paket dan memungkinkan lapisan jaringan untuk meneruskan
data ke protokol lapisan atas.
6) Hop Limit - Field yang berisi 8 bit ini setara
dengan field TTL IPv4. Nilai ini akan dikurangi dengan 1 oleh router ketika
meneruskan paket. Ketika penghitung mencapai 0, paket akan dibuang dan pesan
ICMPv6 Time Exceeded akan diteruskan ke host pengirim.
7) Source IPv6 address - Field yang berisi
128 bit untuk mengidentifikasi alamat IPv6 dari host pengirim.
8) Destination IPv6 address - Field yang
berisi 128 bit untuk mengidentifikasi alamat IPv6 dari host penerima.
6.6. Host Forwarding Decision
Peran lain dari lapisan jaringan adalah mengarahkan
paket-paket antar host. Host dapat mengirim paket ke :
1) Itself - Sebuah host dapat melakukan ping ke
diri sendiri dengan mengirimkan paket ke alamat IPv4 khusus yaitu 127.0.0.1
yang disebut sebagai loopback, sekaligus dapat menguji protokol stack TCP/IP
pada host.
2) Local host - Host di jaringan lokal yang sama
dengan host pengirim atau host berbagi alamat jaringan yang sama.
3) Remote host - Host di jaringan jarak
jauh atau host tidak akan berbagi alamat jaringan yang sama.
6.7. Host Routing Tables
Pada host Windows, perintah route print atau netstat
–r dapat digunakan untuk menampilkan tabel routing host. Ketika
memasukkan perintah tersebut akan menampilkan tiga bagian yang terkait dengan
koneksi jaringan TCP/IP diantaranya :
1) Interface List - Daftar Media Access Control
(MAC) address dan nomor interface yang ditetapkan dari setiap host, termasuk
Ethernet, Wi-Fi, dan adaptor Bluetooth.
2) IPv4 Route Table - Mencantumkan semua rute
IPv4 yang dikenal, termasuk koneksi langsung, jaringan lokal, dan rute default
lokal.
3) IPv4 Route Table - Mencantumkan semua rute
IPv6 yang dikenal, termasuk koneksi langsung, jaringan lokal, dan rute default
lokal.
Tabel routing dari router dapat menyimpan informasi tentang
:
a. Directly connected
routes
Rute ini berasal dari interface router yang aktif. Router
menambahkan rute yang terhubung langsung ketika interface dikonfigurasi dengan
alamat IP dan diaktifkan.
b. Remote Routes
Rute ini berasal dari jaringan jarak jauh yang terhubung ke
router lain. Rute ke jaringan ini dapat dikonfigurasi secara manual atau secara
dinamis di router lokal untuk bertukar informasi routing dengan router lain
menggunakan protokol routing dinamis.
c. Default Route
Seperti host, router juga menggunakan default route sebagai pilihan terakhir jika tidak ada rute lain ke jaringan yang diinginkan dalam tabel routing.
6.8. Router Memory
Router memiliki akses ke penyimpanan memori volatile atau
non-volatile. Memori volatile membutuhkan kekuatan terus-menerus untuk
mempertahankan informasinya, karena ketika router dimatikan atau dihidupkan
ulang, konten dihapus dan hilang. Sedangkan, memori non-volatile menyimpan
informasinya bahkan ketika perangkat di boot ulang. Secara khusus, sebuah
router Cisco menggunakan empat jenis memori antara lain :
1) RAM - memori volatile yang
digunakan di router Cisco untuk menyimpan aplikasi, proses dan data yang
diperlukan untuk dieksekusi oleh CPU. Router Cisco menggunakan tipe RAM cepat
yang disebut Synchronous Dynamic Random Access Memory (SDRAM).
2) ROM - memori non-volatile
yang digunakan untuk menyimpan instruksi operasional yang penting dan IOS yang
terbatas. Secara khusus, ROM adalah firmware yang tertanam pada sirkuit
terintegrasi di dalam router yang hanya dapat diubah oleh Cisco.
3) NVRAM - memori non-volatile yang digunakan
sebagai penyimpanan permanen untuk file startup-config.
4) Flash - memori komputer non-volatile yang
digunakan sebagai penyimpanan permanen untuk iOS dan file terkait sistem
lainnya seperti file log, file konfigurasi suara, file HTML, konfigurasi
cadangan dan banyak lagi. Ketika router di reboot, IOS disalin dari flash ke
RAM.
6.9. LAN and WAN Interfaces
Koneksi pada router Cisco dapat dikelompokkan menjadi dua
kategori yaitu interface router dan port manajemen In-band. Mirip dengan switch
Cisco, ada beberapa cara untuk mengakses mode EXEC pengguna dalam lingkungan
CLI pada router Cisco yaitu :
1) Console
2) Secure Shell (SSH)
3) Telnet
6.10. Bootset Files and Router Bootup Process
Baik router Cisco dan switch memuat gambar IOS dan file
konfigurasi startup ke dalam RAM ketika di boot. File running-config akan
dimodifikasi ketika administrator jaringan melakukan konfigurasi perangkat.
Perubahan yang dilakukan pada file running-config harus disimpan ke file
startup-config di NVRAM, jika router di-restart atau kehilangan daya. Ada tiga
fase utama dalam proses boot yaitu :
1) Melakukan Program POST
dan Load Bootdtrap.
Selama Power On Self Test (POST), router akan menjalankan
diagnostik dari ROM pada beberapa komponen perangkat keras seperti CPU, RAM dan
NVRAM. Setelah POST, program bootstrap disalin dari ROM ke RAM. Tugas utama
dari program bootstrap adalah untuk mencari IOS Cisco dan memuatnya ke dalam
RAM.
2) Mencari dan memuat
Cisco IOS.
IOS biasanya disimpan dalam memori flash dan disalin ke RAM
untuk dieksekusi oleh CPU. Jika gambar IOS tidak terletak dalam flash, maka
router akan mencari menggunakan Server Trivial File Transfer Protocol (TFTP).
Jika gambar IOS penuh tidak dapat ditemukan, IOS terbatas akan disalin ke RAM
yang dapat digunakan untuk mendiagnosis masalah dan mentransfer IOS penuh ke
dalam memori Flash.
3) Mencari dan memuat
file konfigurasi startup atau masuk ke mode pengaturan.
Program bootstrap kemudian menyalin file konfigurasi startup
dari NVRAM ke RAM, hal terebut akan menjadi file running-config. Jika file
stratup-config tidak ada di NVRAM, router dapat dikonfigurasi untuk mencari
server TFTP. Jika server TFTP tidak ditemukan, maka router akan menampilkan
prompt mode pengaturan.
6.11. Basic Switch and basic route is same
Configuration Steps
Ada beberapa switch dan router Configuration Tasks antara
lain :
1) Configure the device
name
#hostname name
2) Secure user EXEC mode
#line console 0
#password password
#login
3) Secure remote
Telnet/SSH access
#line vty 0 15
#password password
#login
4) Secure Privileged EXEC
mode
#enable secret password
5) Secure all passwords
in the config file
#service password-encryption
6) Provide legal
notification
#banner motd delimiter message delimiter
7) Configure the
management SVI รจ Only
switch configuration taks
#interface vlan 1
#ip address ip-address subnet-mask
#no shutdown
8) Save the configuration
#copy running-config startup-config
6.12. Configure Router Interfaces
Agar router dapat dijangkau, interface router di-band harus
dikonfigurasi. Ada banyak jenis interface yang tersedia di router Cisco, dalam
contoh ini pada router Cisco 1941 yaitu dilengkapi dengan :
1) Dua interface Gigabit
Ethernet - GigabitEthernet 0/0 (G0/0) dan GigabitEthernet 0/1
(G0/1).
2) Interface WAN serial
(WIC) yang terdiri dari dua interface - Serial 0/0/0 (S0/0/0) dan Serial 0/0/1
(S0/0/1).
Berikut adalah konfigurasi interface pada router yaitu :
#interface type-and-number
#description description-text
#ip addresss ipv4-address subnet-mask
#no shutdown
6.13. Verify Interfaces Configuration
Perintah verifikasi interface lainnya antara lain :
1) show ip
route - Menampilkan isi dari tabel routing IPv4 yang disimpan dalam
RAM.
2) show interfaces -
Menampilkan statistik untuk semua interface di perangkat.
3) show ip interface -
Menampilkan statistik IPv4 untuk semua interface di router.
6.14. Default Gateway for a Host
Agar perangkat akhir dapat berkomunikasi melalui jaringan,
perangkat harus dikonfigurasi dengan informasi alamat IP yang benar, termasuk
alamat default gateway. Default gateway hanya digunakan ketika host ingin
mengirim paket ke perangkat di jaringan lain, default gateway ini umumnya
merupakan alamat interface router yang terhubung ke jaringan lokal host. Alamat
IP perangkat host dan alamat interface router harus berada dalam jaringan yang
sama.
6.15. Default Gateway for a Switch
Biasanya, switch workgroup yang menghubungkan komputer klien
adalah perangkat Layer 2. Dengan demikian, switch Layer 2 tidak memerlukan
alamat IP berfungsi dengan benar. Namun, jika ingin terhubung ke switch dan
mengelolanya secara administratif melalui beberapa jaringan, perlu mengkonfigurasi
SVI dengan alamat IPv4, subnet mask dan alamat default gateway. Untuk
mengkonfigurasi default gateway pada switch, gunakan perintah ip
default-gateway [ip-gateway-nya] di global configuration.



