Popular Post

Popular Posts

Kamis, 18 Februari 2021

 

Chapter 8 Subnetting IP Networks

8.1. Reasons for Subnetting

Dengan subnetting, sebuah perusahaan dapat mengurangi lalu lintas jaringan secara keseluruhan dan meningkatkan kinerja jaringan. Selain itu, administrator juga dapat menerapkan kebijakan keamanan seperti subnet mana yang diizinkan atau tidak diizinkan untuk berkomunikasi bersama.

 

8.2. Classless Subnetting

Contoh-contoh yang terlihat sejauh ini meminjam bit host dari prefix length umum yaitu /8, /16 dan /24. Namun, subnet dapat meminjam bit dari posisi bit host mana pun untuk membuat subnet mask lain. Sebagai contoh, alamat jaringan /24 umumnya disubkripsikan menggunakan prefix yang lebih panjang dengan meminjam bit dari oktet keempat. Ini memberikan administrator fleksibilitas tambahan ketika menetapkan alamat jaringan ke sejumlah perangkat akhir yang lebih kecil seperti :

  • ·   /25 - Meminjam 1 bit dari oktet keempat menghasilkan 2 subnet yang masing-masing mendukung 126 host.
  • ·         /26 - Meminjam 2 bit menghasilkan 4 subnet yang masing-masing mendukung 62 host.
  • ·         /27 - Meminjam 3 bit menghasilkan 8 subnet yang masing-masing mendukung 30 host.
  • ·         /28 - Meminjam 4 bit menghasilkan 16 subnet yang masing-masing mendukung 14 host.
  • ·         /29 - Meminjam 5 bit menghasilkan 32 subnet yang masing-masing mendukung 6 host.
  •       /30 - Meminjam 6 bit menghasilkan 64 subnet yang masing-masing mendukung 2 host.

 

 

8.3. Subnetting Formulas

Untuk menghitung jumlah subnet yang dapat dibuat dari bit yang dipinjam, gunakan rumus “ 2 ^ n “ dimana n adalah bit yang dipinjam. Bisa dilihat implementasinya pada gambar di bawah ini.

 

Catatan : Dua bit terakhir tidak dapat dipinjam dari oktet terakhir karena tidak akan ada alamat host yang tersedia. Oleh karena itu, prefix length terpanjang yang mungkin bisa di subnetting adalah /30 atau 255.255.255.252.

 

Untuk menghitung jumlah host yang dapat digunakan, gunakan rumus “ 2 ^ n - 2 “, dimana n adalah jumlah bit host. Ada dua alamat subnet yang tidak dapat ditetapkan ke host yaitu network address dan broadcast address, jadi harus menguranginya 2. Berikut implementasi untuk menghitung jumlah host, seperti yang ditunjukkan pada gambar di bawah ini :



8.4. Variabel Length Subnet Mask (VLSM)

Dalam semua contoh subnetting sebelumnya, subnet mask yang sama diterapkan untuk semua subnet. Ini berarti bahwa setiap subnet memiliki jumlah alamat host yang sama.

Subnetting VLSM mirip dengan subnetting tradisional dalam bit yang dipinjam untuk membuat subnet. Perbedaannya adalah subnetting bukan merupakan aktivitas single pass. Dengan VLSM, jaringan pertama-tama di-subnet, dan kemudian subnet-subnet kembali di-subnet. Proses ini dapat diulang beberapa kali untuk membuat subnet dari berbagai ukuran.

Untuk lebih memahami proses VLSM. Sebagai contoh, jaringan 192.168.20.0/24 di subnet menjadi delapan subnet berukuran sama. Tujuh dari delapan subnet dialokasikan. Empat subnet digunakan untuk LAN dan tiga subnet untuk koneksi WAN antar router. Ingat bahwa ruang alamat yang terbuang digunakan untuk koneksi WAN. Untuk membuat subnet yang lebih kecil untuk link WAN, salah satu subnet akan dibagi. Dalam contoh ini, subnet terakhir, 192.168.20.224/27, akan di-subnetkan lebih lanjut. Bisa dilihat seperti pada gambar di bawah ini.

Sebelum koneksi WAN di Subnet VLSM

 



 

Setelah koneksi WAN di Subnet dengan VLSM



 

Skema subnetting VLSM ini dapat mengurangi jumlah alamat per subnet ke ukuran yang sesuai untuk WAN. Subnetting subnet 7 untuk WAN, memungkinkan subnet 4, 5, dan 6 tersedia untuk jaringan masa depan, serta 5 subnet tambahan yang tersedia untuk WAN.

 

8.5. Planning to Address the Network

 Tiga pertimbangan utama untuk merencanakan alokasi alamat yaitu :

1) Mencegah duplikasi alamat, mengacu pada fakta bahwa setiap host dalam suatu internetwork harus memiliki alamat yang unik.

2)   Menyediakan dan mengendalikan akses, mengacu pada fakta beberapa host, seperti server yang menyediakan sumber daya untuk host internal maupun eksternal. Alamat layer 3 server dapat digunakan untuk mengontrol akses ke server itu. Namun, jika alamat tersebut secara acak ditetapkan dan tidak didokumentasikan dengan baik, mengontrol akses akan lebih sulit dilakukan.

3)    Pemantauan keamanan dan kinerja host, berarti lalu lintas jaringan diperiksa untuk alamat IP sumber yang menghasilkan atau menerima paket yang berlebihan. Jika ada perencanaan dan dokumentasi yang tepat dari pengalamatan jaringan, perangkat jaringan bermasalah harus mudah ditemukan.

 

8.6. The IPv6 Global Unicast Address

Subnet IPv6 memerlukan pendekatan yang berbeda dari subnet IPv4. Namun, karena banyaknya alamat IPv6, tidak ada lagi kekhawatiran untuk melestarikan alamat. Subnetting IPv6 tidak berkaitan dengan konservasi ruang alamat. Subnet ID mencakup lebih dari subnet yang cukup. Subnetting IPv6 adalah tentang membangun hierarki pengalamatan berdasarkan jumlah sub jaringan yang diperlukan.

Ada dua jenis alamat IPv6 yang dapat ditetapkan. Alamat link-local IPv6 yang tidak pernah bisa di subnet karena hanya ada pada link local. Namun, alamat unicast global IPv6 dapat di subnet. Alamat global unicast IPv6 biasanya terdiri dari prefix routing global /48, subnet ID 16 bit, dan interface ID 64 bit.

 

8.7. Subnet Using the Subnet ID

Bagian subnet ID 16 bit dari alamat global unicast IPv6 dapat digunakan oleh organisasi untuk membuat subnet internal. Subnet ID menyediakan subnet dan dukungan host yang lebih dari cukup yang dibutuhkan dalam satu subnet yang bisa membuat hingga 65.536 /64 subnet tanpa meminjam bit apapun dari interface ID atau bahkan mendukung hingga 18 juta alamat IPv6 host per subnet.

Subnetting IPv6 juga lebih mudah diterapkan daripada IPv4, karena tidak ada konversi ke biner yang diperlukan. Untuk menentukan subnet yang tersedia berikutnya, cukup hitung dalam heksadesimal. Sebagai contoh, asumsikan sebuah organisasi telah ditetapkan 2001: 0DB8:ACAD::/48 global prefix routing dengan 16 bit sebagai subnet ID.

 

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Bina Rahayu ASJ - Devil Survivor 2 - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -